Wednesday, March 07, 2007

Dia, yang paling kuasa

Aku sedih,
bukan untuk diriku sendiri
tapi untuk negeri
yang setiap hari selalu menjalani kejadian ngeri

tahun lalu banjir lumpur,
bulan lalu pesawat hilang,
minggu lalu longsor
kemarin gempa
sekarang pesawat meledak

aku bertanya pada Tuhan,
ini pertanda apa?
teguran atau cobaan?
kemarahan atau hukuman?

akupun tersadar
bukan hakku untuk bertanya
karena akupun hanya pemain dalam panggung sandiwara
yang nantinya bermain sesuai dengan arahan sutradara

akupun juga mengerti
bahwa hidup harus terus dijalani
dengan instropeksi diri
dan kesadaran hati

sadar ..
untuk selalu berbuat baik
dan siap untuk diambil
sang sutradara kehidupan

==================================

Kemarin saat lunch, tanpa sadar aku dan beberapa temanku ngobrol soal pesawat.
"Wah, sekarang kalau naik pesawat biar lebih save, pake Garuda aja deh...habis Adam Air udah beberapa kali juga kecelakaan," kata salah satu temanku.

Pagi ini, tiba-tiba kudengar pesawat Garuda meledak.
Siapa yang bisa memperkirakan? Tiba-tiba pesawat yang disebutkan oleh temanku sebagai pesawat yang bikin penumpang 'save' ternyata sudah gak save.

Siang ini, saat lunch .. kita jadi ramai-ramai bahas masalah itu. Apalagi salah satu teman (Australia Education Center), bawa tivi kecil, dia penasaran dengan 9 orang Aussie yang ikut menjadi korban dalam ledakan pesawat itu.

Aku jadi sedih jika ingat negeri tercintaku ini. Negeriku ini rasanya tak surut dari masalah. Gempa, banjir, kecelakaan, dan entah bentuk bencana apa lagi terus menimpa negeri ini.
Aku juga sedih ketika mendengar kabar Timnas penanganan lumpur lapindo tugasnya sudah selesai. Selesai dalam batas apa? Bahkan aku bilang tidak ada kerja maksimal dari Timnas.
Banyak warga yang kehilangan rumah dan barang-barang berharga berangkat ke Jakarta untuk meminta tanggung jawab.
Aku sedih tak terkira bahwa korban pesawat Adam Air tak bisa diangkat, karena biayanya yang cukup banyak dan sangat sulit untuk mengangkat pesawat Adam Air. Keluarga salah satu temanku, hanya bisa pasrah.
Akupun semakin yakin, bahwa nantinya angka statistik kematian di Indonesia sangat meningkat begitupula angka kemiskinan dan juga angka pada statistik 'orang gila'. Kenapa aku bisa bilang seperti itu?
Jelas angka kematian sudah meningkat, kemiskinan juga (gimana gak? nah yang korban banjir, gempa, bencana alam, lumpur..sudah tak punya apa2 lagi .. harta mereka sudah habis bersama bencana itu). Gila? ya pasti... tetangga depan rumahku (di MCG Sidoarjo) bercerita bahwa pamannya baru saja meninggal mendadak, karena rumahnya diperkirakan akan terkena lumpur...petugas pendataan datang dengan maksud supaya rumahnya nanti bisa dimintakan ganti rugi. Nyatanya, hanya didata saja .. pamannya sudah langsung shock dan meninggal seketika. Ada juga tetangga yang bercerita saudaranya gila alias stress tingkat berat, melihat rumahnya terkena lumpur lapindo.

Terkadang aku berpikir, penanganan yang terlambat dalam setiap kejadian, sebenarnya itu adalah kesalahan birokrasi dalam pemerintahan atau Indonesia memang punya alat terbatas? Sebagai contoh untuk mengangkat bangkai Adam Air, Indonesia tak mampu melakukannya sendiri. Begitupula lumpur lapindo, seolah tak ada tindakan optimal dari pemerintah pusat. Apakah akan dianggap bencana Nasional, dengan menunggu Sidoarjo benar-benar tenggelam? Aku sendiri sebagai warga Sidoarjo wajib siap mental, jika seandainya 11 tahun ke depan lumpur tak berhenti. Dan artinya aku harus rela kehilangan rumahku. Rela dalam arti pasrah.

Banyak yang bilang, lumpur lapindo tidak akan berhenti. Lumpur itu akan terus mengalir dan akan menenggelamkan kota Sidoarjo. Bagi manusia tidak mungkin, tetapi bagi Tuhan mungkin. Apa sih yang tak mungkin bagi Tuhan? Aku percaya, jika manusia mau berusaha..berdoa memohon mujizatNya dan yang terakhir berpasrah .. Tuhan pasti kabulkan.
* Janganlah kamu kuatir akan apa yang kamu makan, kamu minum dan kamu pakai .....
* Segala sesuatu indah pada waktunya
* Mintalah .. maka kamu akan menerima, carilah .. maka kamu akan mendapatkan, ketoklah .. maka pintu akan dibukakan bagimu
Tiga 'tanda bintang' itu yang membuat aku selama ini selalu punya harapan.
Karena aku percaya, Dia yang paling kuasa..tidak akan pernah tidur.

7Maret 2007

Thursday, February 08, 2007

Saya diuji, lagi!

Saya diuji lagi.
Kesabaran yang lebih pada batasnya. Kalau ujian bulan2 lalu saya diuji sebagai seorang anak yang bakti pada ortu, istri yang memahami suami, mama yang faham akan anaknya dan juga menantu yang mengerti mertuanya. Ujian bulan2 ini masih merupakan rangkaian dari bulan2 lalu...tapi saat ini batin saya diharapkan untuk lebih siap mental menjadi seorang mama.



Anak saya sakit. Rabu (31 Jan), saya ditelpon suami katanya Edgar diare dan demam. Suami minta saya untuk segera pulang. Saya lekas mematikan komputer saya, menerjang mendung yang sudah gelap, berharap hujan tak mengguyur ketika saya berjuang untuk lekas sampai di rumah dengan mengendari roda dua.
Setelah sampai di sana, bapak mertua bilang demam anak saya sudah reda. Rabu malam Edgar sudah baikan. Kamis saya memutuskan tidak masuk kerja, demi anak semata wayang yang saya nanti 3 tahun dalam usia pernikahan kami. Berbekal tempra sebagai obat panas dan Lacto B untuk mengatasi diare-nya. Edgar sudah beraktifitas seperti biasanya.
Menjelang jam 23.00 WIB, kamis malam..Edgar menangis tak henti, saya bingung, kalut, gak tahan lihat tangisnya. Gak biasanya anak saya cengeng..saya masih ingat ketika anak saya demam tinggi karena suntikan DPT, dia diam hanya senyum merasakan demamnya itu..tapi kali ini dia menangis kenceng banget..
Edgar mintanya digendong. Kami gantian, saya..suami..bapak..ibu..kami bingung.

Jumat pagi saya bawa Edgar ke UGD AdiHusada Undaan. Dokter UGD menyatakan anak saya mengalami dehidrasi alias kekurangan cairan. Saya yang tak tega melihat Edgar kesakitan, berpasrah saja ketika dokter UGD meminta anak saya diopname.
Tapi AdiHusada Undaan, ternyata kamar untuk merawat inap anak penuh. Suster telp ke Budi Mulya juga penuh, HCOS penuh, RKZ penuh juga...saya pun terima saja ketika dirujuk ke Adihusada Kapasari.

Edgar ditusuk jarum berkali-kali ketika hendak diambil darahnya. Hemm...saya hendak protes pada suster yang mengambil darahnya, anak sudah nangis gitu kok ya gak bisa2 nusuknya dan menemukan letak yang tepat. Saya menangis. Akhirnya si suster ini, memanggil temannya..dan alhasil temannya satu kali tusuk aja udah jadi keambil darahnya. Edgar diinfus. Sehari semalam di RS Edgar menangis terus...tiap kali menangis gak lama kemudian dia pup...dan herannya pupnya tuh cair banget, padahal waktu di rumah sering pup tapi kental.
Edgar disuruh puasa...lalu dokter menyarankan diberi air teh...saya turuti saja. Tetapi nyatanya tiap kali edgar minum teh, perutnya kembung, dan dia malah diare tiap dua jam. Huh..saya panik..dirawat kok bukannya membaik.
Saya menyuruh suami beli gula, lalu saya bikinkan air gula,..dia doyan, sekali minum bisa habis dua botol. Ternyata manjur, gak pernah pup lagi..sekali pup udah gak cair. Muntah juga gak...demam juga gak. Itu adalah hari minggu.

Karena merasa kondisinya membaik, saya hendak kerja mengingat saya meninggalkan tanggungjawab besar di kantor. Ada laporan tahunan yang wajib dibereskan menjelang pergantian pimpinan di Ubaya. Jadi suami kerja, saya juga kerja dan di sana hanya ada pengasuhnya. Sampai kantor ternyata boss saya baik banget, dia cuma minta diforward dokumen2 penting yang digunakan buat laporan tersebut..beliau sendiri nantinya yang mengerjakan.
Perasaan saya memang sempat gak enak, jam 11.00 suami saya telp panik banget...katanya Edgar di oksigen. God! Dada saya sempat sesak dengar berita itu.
Saya pun akhirnya jam 12.00 berpamitan. Rasanya saya gak akan bisa konsen kerja dengan kondisi anak saya seperti itu.

Suami saya marah besar...sayapun ingin teriak dan cubit para susternya. Harusnya jarum infus itu tiap tiga hari diganti semua dan dipindah posisinya jika itu digunakan untuk bayi. Tetapi mereka teledor. Edgar terhitung sudah 4 hari. Begitu Edgar disuntik injeksi pada infusnya, dia menggigil dan demam tinggi. Jadi ada kemungkinan Edgar infeksi karena infus. Emaknya (pengasuhnya) bingung harus berbuat apa, untunglah tetangga sebelah (yang anaknya juga muntaber) segera bertindak pencet bel untuk manggil susternya. Dan akhirnya anak saya di oksigen.
Saya ingin berontak...ingin teriak..ini bayi lhoo iya kalau orang gede bisa ngerasain dan bilang sakit dimananya. Edgar bisanya nangis aja.
Sampai di sana, hati saya trenyuh banget, melihat edgar sudah diberi infus, diberi oksigen. Namanya Edgar mana bisa diam sih? Saya akhirnya membungkus badannya dengan selendang supaya tangannya tak bergerak bebas. Kasihan sih sebenarnya. Habis tangannya mencabut oksigen yang menempel dengan sukses di hidungnya, saya tahu pasti dia gak enak...risih. Saya makin trenyuh ketika Edgar bermain di tempat ridur RS itu dengan berbagai selang yang melilitnya. Tapi dasar Edgar, mana pernah dia merasakan sakitnya...walau selang banyak melilit tubuhnya dia masih asik dengan mainannya, dia masih aktif teriak2. Saya sempat GR dan bangga sendiri..ketika tetangga sebelah yang anaknya usia 8 bulan hampir 9 bulan..heran dengan Edgar yang udah merangkak..sering tiba2 berdiri sendiri. Katanya "Fahri belum bisa begitu.." memang anaknya cuma bisa tengkurap saja. Saya sempat besar kepala ketika beberapa teman, yang ternyata anaknya juga di rawat di sana bilang "Ya ampun mbak...kalau jaga Edgar sendiri yo pasti kewalahan lha gesitnya seperti ini." Soalnya mereka berdua yang bantu ngejagain Edgar dan menyuruh saya makan siang dulu...mereka tahu sendiri betapa saya kewalahan ketika menggantikan pamper lalu dengan tiba2 Edgar ngompol dengan sukses membasahi baju dan celananya. Kita bertiga yang menggantikan pakaian Edgar...dan kita bertiga saja masih ngos-ngosan mengatasi ulah Edgar..karena kita bingung dengan selang2nya.

Hari Selasa saya bolos. Oksigen dilepas. Saya menanyakan dokter tentang tes kotoran, urine dan darah. Kata dokter HB nya Edgar rendah..harusnya bayi normalnya 15 tetapi Edgar 10. Saya tanya jalan keluarnya apa..dokternya bilang wajib transfusi darah..dokter menyarankan saya agar lekas ambil tindakan. Saya bilang...menunggu suami.
Akh gila benar...anak sebayi ini mau ditransfusi. Gak..gak..saya gak tega dan gak mau. Edgar udah baik2 saja. Buktinya dia main dengan gesitnya, makan 1 piring bubur dari RS juga habis tanpa muntah dan diare. Temperaturnya selalu 36.
Saya lekas menelepon bapak, suami dan kakak ipar yang bekerja sebagai perawat. Dari hasil telepon itu kita sepakat untuk pulang paksa saja. Bapak mertua juga takut, kalau nanti jika ditransfusi justru malah punya penyakit aneh2. Gimana gak? Saya merinding sendiri tiap baca koran dimana PMI pernah menemukan beberapa kantong darah yang mengandung HIV. Ihhh ngeri...saya gak bisa bayangin kalau Edgar ditransfusi. Susternya sempat nanya kenapa saya gak mau transfusi, saya jelaskan..sempat debab juga sama susternya. Saya disuruh tanda tangan kalau saya gak mau transfusi. Suami saya kesana...menjelaskan kebohongan..bahwa kita sudah gak punya duit. Alasan klasik dan alasanya yang memang gak bisa dipaksakan untuk tetap terus di situ. Suami saya nanya kemungkinan terjelek kalau Edgar gak transfusi apa? Susternya bilang anaknya akan demam terus. Suami saya jawab..buktinya dua hari ini gak demam kan sus. Susternya cuma mengiyakan.
Jelas dong..anak saya HB nya rendah. Ketika tes darah pertama HB nya 12..kondisi Edgar lemas..karena kehilangan cairan. Ketika tes darah kedua..HBnya justru 10 ..lha ngambilnya waktu Edgar mengigil, demam tinggi karena infusnya tak diganti.Kenapa mengambil darahnya waktu kondisi drop? Otomatis Edgar HBnya rendah.
Akhirnya Rabu walau dokter belum mengijinkan pulang, saya nekad membawa Edgar pulang. Biarlah saya cari RS yang lebih rasional saja. Biarlah saya cari dokter anak yang lebih rasional dalam mengobati anak, hati2 dalam penanganannya.

Saya membisikkan ke Edgar.."Nak..jangan pernah sakit lagi ya. Cukup saat ini saja. Kalau sakit, biar mama yang merasakannya saja." air mata saya tumpah melihat tangan dan kakinya banyak bekas tusukan jarum suntik.

Ini memang curhat saya special cerita Edgar. Ini penyesalan saya yang tidak menyediakan pedialyte (cairan oralit untuk bayi, sebagai pengganti cairan yang hilang). Sebenarnya penanganan saya di rumah sudah betul..memakain tempra untuk penurun panas, dan lacto B (toh lacto b juga digunakan di RS)...hanya saja saya tidak memberikan oralit (pedialyte untuk baby) pada Edgar. Seandainya saya berikan, tentu Edgar tidak mengalami dehidrasi, yang mengakibatkan infeksi usus..karena apa yang dikeluarkan tidak imbang dengan apa yang masuk.

Sekedar sharing untuk teman2..bagi yang punya anak, ponakan..usahakan sedia obat dalam kotak P3K..mulai dari obat panas, batuk pilek..terutama diare dan muntah.

Satu yang saya sesalkan, ketika Senin saya masuk kerja, Nana (Syafrina Siregar, penulis Life begin at Fatty) mengirimkan sebuah pesan untuk saya. Nana ingin bertemu dengan saya pada hari Sabtu dan Minggu. Terlambat! Ya, mau apalagi saya tidak masuk sejak Kamis. Saya sms minta maaf pada Nana, bukannya saya tidak mau bertemu. Tetapi ini karena sungguh rencana di luar dugaan. Hari ini saya telepon Nana, ternyata dia gak jadi pulang Kamis, Nana jadi balik hari Jumat. Semoga nanti malam saya dapat bertemu dengan penulis yang sangat produktif ini...dan semoga Edgar bisa saya ajak.

Thursday, January 25, 2007

Menangis ..

Aku menangis. Lagi!
Kenapa harus menangis?
Apa menangis dapat menyelesaikan semuanya?
Memang tidak, tapi menangis membuatku lega
menangis mengingatkanku bahwa Tuhan sungguh baik
Ia menciptakan mata dan aliran air
Bukankah itu ajaib?
Menangis juga membuat aku sadar
bahwa hidup tak selamanya harus tertawa
Apa kamu tahu? Tangis itu tak selalu berarti sedih
Ada segelintir orang yang justru menangis di kala gembira
Dan .. aku berharap bisa menjadi segelintir orang itu
Aku tak pernah malu jika menangis
Karena Tuhan menciptakan mata juga buat menangis
Aku tak pernah malu mengakui bahwa aku menangis
Karena itu satu-satunya senjata mengungkapkan kesesakan hati
Lihat! Aku masih menangis.Lagi!

[Pondok Mertua Indah. 29 Des 2006 ; jam 24.00]

Hai! Jumpa lagi. Maaf aku lama tidak update blog. Dikarenakan kesibukan kerja, laporan bulanan dan laporan tahunan yang tak ketinggalan tentunya.

Melow ya? Aku melow, kali ini :)
Harus kuakui, aku sedang menghadapi masalah. Berat .. berat banget. Sampai-sampai aku susah untuk ngomongnya, susah untuk ceritanya.

Tuhan menguji aku, sejak aku hamil Edgar..dan puncaknya Nopember kemarin. Tuhan menguji aku sebagai seorang anak yang berbakti pada ortu, sebagai seorang istri yang menurut dan mengikuti suami, sebagai mama yang harus bisa tetap memperhatikan Edgar walau aku sibuk dengan pekerjaan.

Kadang aku putus asa, karena masalahku tidak bisa terselesaikan jika aku tidak memulainya terlebih dahulu. Beberapa teman dekat aku bilang "Masalahmu bisa selesai hanya dengan doa, kamu hanya bisa tunggu keajaiban dari Tuhan. Kamu hanya bisa menyelesaikan masalah ini karena kuasa Tuhan."

Mereka benar. Hanya kekuatan doa.
Masih ingat saudaraku yang pernah kecelakaan September lalu? Ya! Harusnya aku belajar dari Titin. Kemarin malam titin sempat bilang "Kesembuhanku ini sebenarnya bukan dari kesuksesan medis, tapi ini adalah kekuatan doa."
Bukan hanya doa dari Titin, dari sahabat, saudara, teman ..yang terus datang silih berganti, yang tak lelah berdoa mohon keajaiban untuk kesembuhan titin.
Secara medis, orang akan berpikir titin akan meninggal. Titin koma hingga satu bulan. Operasi otak yang dilakukan beberapa kali. Operasi pada dagu, operasi pada punggung..dan entah berapa lagi operasi.
Titin sekarang sudah sembuh. Tapi wajahnya tidak secantik dulu lagi. Banyak jahitan yang berada di pipi dan dagu membuat pemandangan tak sedap. Matanya jadi bengkak, hidungnya tidak bisa membau. Herannya, dia masih kuat..bahkan dia sudah bekerja, dengan nekadnya naik taxi.
Kalau titin bisa sekuat itu, mengapa aku tidak bisa?

Indah tidaknya dunia ini, tinggal kita sendirilah yang memandangnya bukan?
Jika kita memandangnya dari sudut baik, menikmati setiap berkat dengan rasa syukur..bukankah itu akan menjadi indah?

Edgarlah penyemangat hidup. Melihat senyumnya, melihat ketawanya, semua jadi hilang. Edgar benar-benar karunia terindah...karunia terbesar dari Tuhan.

Tentang Edgar, sekarang dia sudah bisa merangkak.
Edgar sudah mulai mengamati. Jika ada hal yang menarik segera ia ambil, diamati gerak benda tersebut..kalau sudah ya dibanting-banting. Edgar sudah berkosakata banyak mulai papa, mama, bapak, baba, wawa, mbah, ... dan lucunya tiap mau tidur dia selalu mendesiskan huruf A panjang. Suamiku pernah menghitung desisannya itu sampai 10 hitungan. Kata papanya "Edgar latihan pernafasan ya?" :)
Edgar suka sekali diberdirikan. Kalau dikudang, dikasih musik, dinyanyiin pasti dia genjot-genjotkan badannya naik turun. Tapi aku cemburu juga, karena Edgar mulai dekat dengan pengasuhnya he..he..Edgar belum tumbuh gigi juga :)

Dalam perjalanan hidup aku percaya bahwa Tuhan akan memberi segala sesuatu indah pada waktunya. Kekuatan doa memang tak terkalahkan, tentu diimbangi dengan usaha. Maukah teman-teman ikut mendoakanku? Agar aku bisa menyelesaikan masalah rumah tanggaku?

God Bless you always!

Tuesday, December 19, 2006

Pencapaian Tertinggi

Dulu, dulu sekali, aku gak kepikiran jadi penulis. Hoby nulis sih, tapi cuma nulis diary. Kalau baca-baca diaryku sejak masih Sekolah Dasar sampe kuliah, ngakak deh..ketawa-ketawa sendiri. Masuk SMU pernah bikin cerpen, pinginnya sih dikirimkan ke Buletin Sekolah, ehh gak jadi gara-gara rasa gak pede alias takut ditolak.

Nah hobby menulisku ini diawali gara-gara omongan seorang Romo. Ketika pertama kali aku kerja, aku gila nge-net..gila chatting, aku suka banget forward kisah2 mengaharukan atau gambar-gambar lucu ke email orang-orang termasuk ke salah satu Romo. Romo Gani, namanya. Beliaunya ini terkenal sebagai Romonya anak jalanan. Tiba-tiba tuh aku dapat e-mail dari Mo Gani yang bunyinya "Rin, bikin sendiri kenapa?Kok cuma forward-forward?" he..he.. malu deh aku dapat jawaban seperti itu dan akhirnya aku merasa tertantang banget. Dan saat itulah aku kirim mail bukan cuma forward2 aja, tetapi email yang asli tulisan tanganku.

Lihat orang cacat di pinggir jalan, jadilah aku menulis refleksi diri. Aku juga menuliskan tentang Kasih Ibu Sepanjang Jalan, tentang Bapak, tentang sahabat yang telah meninggal bahkan yang terakhir aku menulis puisi tentang 'maaf' Aku pernah mencoba mengirim ke ^Pondok Renungan^ . Gak nyangka banget beberapa refleksiku dimuat di ^Pondok Renungan^ . Inilah pencapaian prestasi menulisku yang pertama. Duhhh, dipampang di dunia maya, gak dapat apa-apa aja senengnya bukan kepalang. Bangganya lagi, aku dapat beberapa email masuk yang mengajak berkenalan dan suka dengan refleksi tulisan tanganku. Beberapa ada yang sampai sekarang jadi sodara. Sebut saja Pak Frans Makasar, bapak dengan 2 anak ini awalnya baca Kasih Ibu Sepanjang Jalan..beliau kirim mail, aku reply dan akhirnya tiap Bapak ini datang ke Surabaya, pasti telepon atau ketemuan denganku dan keluargaku termasuk keluarga Bapak Frans.

Kemudian aku ditawarin gabung di Buletin Gereja. Aku diminta untuk menjadi redaksi, terutama mengisi di kolom remaja, anak-anak dan muda-mudi. Mulailah cerita anak, liputan singkat bahkan sempat cerita valentine ku mengisi di buletin tersebut. Itu adalah pencapaian prestasi menulisku yang kedua.

Tiba-tiba di ^Blogfam^ 3 cerita anakku nongol masuk final lomba cerita anak. Wuihh gak nyangka banger, walau gak menang ini termasuk pada titik pencapaian ke-3.

Cerpenku masuk Antologi Blogfam, diterbitkan oleh Penerbit Gradien. 2 Flash Fiction ku masuk juga FFF Blogfam. Ini benar-benar Miracle. Walau ini bukan bukuku sendiri, ini hasil keroyokan, but I am so happy dan ini merupakan pencapaian ke-4.

Nah..cerita anak yang ikut di lomba blogfam, ternyata diusahakan sama ^Iwok^ (sorry wok aku sebutin namamu di sini) masuk ke penerbit ganeca. Dan teng..teng..dalam proses terbit. Tapi gak dijual untuk umum, cuma dijual ke sekolah2 lhoo. Ini pencapaian juga :)

Terakhir.. gak menduga ^Blogfam^ memberi aku predikat Juara II Lomba Entry. Thanks God .. Ini pencapaian tertinggi. Walau hadiahnya gak bernilai jutaan rupiah he..he.. tapi aku seneng punya predikat sebagai juara. Makasih blogfam, juga panitia dan juri tentunya :)

Semoga ini bukan terakhir. Semoga aku bisa mencapai prestasi-prestasi menulis lainnya. Dan ini tandanya aku gak boleh larut dalam keminderan. Karena perasaan itu sungguh tak mengenakkan dan menghambat kreatifitas diri. Aku selalu membandingkan tulisanku dengan orang lain yang menurut aku jauuuh banget lebih baik. Akh salahkah aku?

And..I want to say

Merry Chrismast ... , bagi yang merayakannya
dan
Happy New Year 2007

Dengan doa tentunya, semoga kita dapat mewujudkan cita-cita kita yang tertunda dan belum terlaksana di tahun 2006.


Sorry, mau hiatus kurang lebih 10 hari.
Maklum ada Chrismast dan New Year Holiday, December 22 until January 2, 2007. Horee...liburan..!

Take care ya, friends.

Wednesday, December 06, 2006

Aku Rakyat BLOGFAM

"Ma, ada kabar bagus buat mama." Edgar anakku datang dengan mimik girang tak terkira.

"Kabar apa sih nak?" tanyaku penasaran.

"Aku diangkat sebagai kepala desa di ^Blogfam^ ma."

"Akh .. yang benar nak?" tanyaku tak percaya. "Mama aja udah lama jadi rakyatnya blogfam gak pernah sampai jadi kades. Emang kamu jadi kepala desa apa sih?" tanyaku sangsi.

"Aku tuh ma, jadi kepala desa di desa curhat."

Dan beberapa menit kemudian aku dibuat bengong oleh ulasan Edgar. Edgar menjelaskan sejarah berdirinya Blogfam di bawah kepak sayap -MakNya- , dia juga menceritakan betapa pesatnya kemajuan negara Blogfam, betapa semakin banyak orang yang ingin bermukim di negara Blogfam. Edgar bilang selama jadi rakyat Blogfam seharusnya aku aktif ikut semua kegiatan blogfam, selayaknya aku juga wajib care dengan keluarga Blogfam yaitu dengan melakukan Kopi Darat (KopDar). "Mama tuh seharusnya aktif memberikan informasi, aktif di Rembug Warga yaitu rutinitas konsultasi dan komunikasi yang selalu up to date di Forum Warga."

"Akh kamu.. mama sih sudah tahu itu." Aku membela diri sendiri. Ya terus terang saja dong, masak mama kalah jabatan sama anaknya?

"Syukur deh kalau mama sudah tahu. Intinya nih ma.. bukan jabatan yang mau Edgar pamerin ke mama. Di negara Blogfam bukan jabatan yang wajib diraih ma..tapi satu yang mama wajib tahu. Banyak keuntungan menjadi warga negara Blogfam." Edgar begitu bersemangat dan antusias menceritakan Negara Blogfam, yang baru ia huni.

Aku hanya diam mengamati gerak dan semangatnya yang membuat aku ikut gembira.

"Contoh nih ma..Edgar diam2 jadi penulis terkenal lho."

"Alaaaah .. masak iya sih." tanyaku setengah terkejut.

"Bener ma.. Blogfam yang membantu aku sukes jadi penulis. Di Blogfam banyak para penulis yang mewariskan nota-nota penting bagaimana menulis dengan baik. Di Blogfam juga ada ahli-ahli tulis yang tak pelit memberikan jurus-jurus menulisnya. Dan satu lagi ma..novelku yang berjudul 'Bangun dari tidur 9 bulan' telah terbit juga karena Blogfam."

"Wah hebat kamu nak!"
Aku kemudian sedikit berpikir, merenung dan melamun...anakku memang benar, seharusnya aku menggunakan kesempatan untuk tetap selalu ada menjadi bagian keluarga terdekat Blogfam.

"Coba sekarang sebutin ma, apa sih kekurang Blogfam, sampai-sampai mama lupa berbakti di sana?" tanya Edgar menyelidik.

Aku diam. Apa ya? Hampir tak ada. Kalaupun kekurangan itu ada, hanya karena Blogfam merupakan suatu Negara yang menjelajah dunia maya. Blogfam berisi orang-orang pecinta dunia maya. Para pejabat Blogfam ada, karena ketulusan mereka yang tanpa pamrih. Sejujurnya, aku tak akan sanggup menjadi seperti mereka.

"Mmmm begini sayang..seharusnya foto2 semua pejabat Blogfam dipajang ya. Jadi mama kan bisa lihat foto kamu." Aku mengalihkan pertanyaan Edgar menjadi masukan tak berarti.

"Ma..nanti Edgar mungkin pulang malam. Karena hari ini ultah Blogfam yang ke-6. Jadi Edgar sibuk banget nyiapin ultah Blogfam."

Dan tiba-tiba aku merasa kesakitan. Kepalaku sakit banget, pantatku seperti remuk..setengah mengantuk aku berucap, "ah, mana mungkin Edgar jadi kepala desa? dia kan bayi.. Dan lagi Blogfam ultah ke-3 bukan ke-6. Kalaupun ultah ke-6, Edgar kan masih usia 3 tahun."

"Apa sih ma? Ngomong sendiri, pake acara jatuh segala. Nanti Edgar bangun gimana?" Suami saya melotot setengah marah, setengah ketawa.

Sambil menggeliat dan menguap panjang, tanpa peduli ocehan papanya Edgar akupun berteriak..

]]_Selamat Ulang Tahun Ke-3 BLOGFAM_[[

Aku masih ingat, saat awal belajar ngeblog..aku senang searching mengenai bagaimana mengubah layout blog, dari situlah aku bertemu dengan Blogfam. Bergabung denganmu dari 25 Februari 2005, ternyata tak membuat aku kecewa. Justru aku banyak mendapatkan keuntungan. Dapat teman, dapat ilmu di Forum baik itu menulis, kesehatan, memasak bahkan tentang kesehatan anak dan denganmu aku dapat menuangkan kesedihan maupun kegembiraan.

Blogfam bikin hidup aku makin hdiup dan penuh warna.

Harapanku, Blogfam terus meningkatkan kualitas dalam kebersamaan, kekeluargaan dan tentunya menjadi tempat yang paling nyaman dalam kehangatan keluarga di dunia maya.

Semoga Blogfam usianya awet sampai Edgar nanti bisa nge-net sendiri, bahkan sampai Edgar punya anak, kalau perlu sampai diriku punya buyut he..he.. Semoga!