Aduhh lama sekali saya tidak meng-update blog tercinta saya ini. Lama juga saya tidak blogwalking ke teman-teman tercinta. Shofa, Dewi, Yaya, Vi3, Mbak Sa, duhh...banyak deh. Bukannya saya melupakan anda semua. Miss you a lot..pingin blogwalking. Tapi...saya sekarang lagi maruk cari duit. Halah..! He..he.. bener lho, lagi maruk cari duit. Sibuk kerja dan getol-getolnya nyari tambahan di internet. Apa bisa sih? Ya...mencoba membuktikan saja pengalaman seseorang yang katanya dia bisa dapat duit dengan isi survey, dengan hanya klik, dengan bla..bla..buktikan aja sih.
Saya juga lagi maruk nulis...halah. Nulis sana, nulis sini. Nyoba sana nyoba sini. Diterima enggaknya di penerbit ya itu urusan belakangan.
Gak terasa juga ternyata saya udah kelar edit chicklit saya yang akhirnya saya putuskan kirim ke GagasMedia. Ragu-ragu sih, saya gitu lhoo...si penulis karbitan, si penulis yang gak bisa apa-apa alias masih belajaran. Kok berani-beraninya kirim ke penerbit besar he..he.. Kata mereka sih buku saya akan dikabarin 3 bulan. Lama ya?
Terus Teenlit saya udah saya coba kirim ke Penerbit Andi, awalnya sih saya mau kirim ke Grasindo...tapi dengar-dengar di sana lagi ngantri banyak naskahnya. Penulis hebat aja ada yang baru 1 tahun dikabarin...
Terus 2 cerita anak saya saya coba kirim ke Penerbit Tiga Serangkai. Dan....teng..teng..satu naskah saya Seri Dongeng Puteri dan Pangeran ditolak. Ya benar! Saya dapat surat tanggal 18 Juni kemarin, karena Seri tersebut dianggap sama dengan cerita-cerita dongeng lainnya. Mereka bilang sih pesan moralnya ada, juga cocok dengan misi Tiga Serangkai yaitu Keislaman, runut dan rapi cara penyampaiannya..tapi ya itu deh. Gak papa..dunia gak berhenti kan kalau ditolak he..he.. harus berjuang lagi dong!!
Edgar 11 Juni kemarin Ultah ke 1. Dan saya 15 Juni kemarin Ultah Pernikahan ke-4. Empat tahun sudah saya hidup berumah tangga dan satu tahun sudah saya hidup bertiga bersama Edgar.
Banyak suka duka saya alami. Tapi sejak kehadiran Edgar di perut saya, saya banyak diuji kesabaran. Berbagai tempaan datang silih berganti tanpa bisa saya menolaknya. Pernah saya putus asa...Sangat! Tapi kekasih saya berkata "Ma, kalau kamu putus asa lihatlah Edgar" dia memang benar. Cuma Edgarlah yang membuat saya tegar dengan tempaan-tempaan itu.
Duuuuh kok jadi melow gini ya?
Oh iya..jangan kaget kalau Edgar belum berani jalan sendiri he..he..apakah Edgar termasuk lambat? Tidak kan? Saya baca di internet dan tanya sana-sini sih..anak bisa jalan sendiri maksimalnya usia 14 bulan. Kakak sepupu saya malah senyum ketika saya cerita Edgar belum berani jalan dilepas sendiri..alias selalu minta titah. Karena Ellen anaknya dia baru bisa jalan usia 22 bulan.
Sebenarnya berdiri sendiri, merambat Edgar sudah biasa...tetapi saya amati Edgar punya keyakinan bahwa kalau tangannya tidak memegang sesuatu dia akan jatuh. Kemarin saya coba pelan-pelan tangan saya, saya lepas. Dan dia bisa berdiri tanpa berpegangan dan jalan 3 langkah. Ya cukuplah kemajuan bagi saya he..he..
Dan ...teng..teng...inilah foto-foto Edgar dengan gayanya di sepeda.


Saturday, June 23, 2007
Empat tahun sudah
Monday, June 04, 2007
Hampir satu tahun
Kemarin, rasanya aku masih hamil.
Kemarin juga rasanya aku masih merasakan tendangan-tendangan hebat di perutku.
Rasanya kemarin..tapi kok tiba-tiba janin di perut ini sudah menjadi sosok yang menggemaskan. Pangeran mungilku ini hampir satu tahun.
Edgar sudah mau ultah, tapi siapa sangka penyakit datang tiba-tiba.
Pengasuh Edgar jatuh terpeleset, ketika itu Edgar digendongnya. Sang Pengasuh ini yang tak lain adalah budhe saya, tak bisa berjalan setelah jatuh..sampai-sampai ditolong pembantu tetangga untuk pergi ke tukang pijat.
Dan kamis malam 31 Mei kemarin Edgar langsung batuk dan demam tinggi disertai muntah.
Tanggal 1 pas hari libur, ternyata budhe dapat kabar dari desa bahwa anaknya yang kelas 2 SMP menghilang. Budhe berpamitan sabtu hendak pulang kampung. Sabtu saya bolos kerja. Dan sabtu itu Edgar makin parah aja batuknya. Tiap kali batuk dia pasti nangis, terus muntah dan juga demam tinggi.
Tgl 2, minggu pagi saya bawa edgar pijat ke budhe (kakak bapak) yang memang sudah mijat edgar dari bayi. Kata budhe "Pantas aja budhe yang mengasuh sampe gak bisa jalan...ini lho bayi segini kesleo sampe tiga tempat, parah gini. Walau diberi obat penurun panas ya tetap panas."
Dari Bapak mertua dibikinkan ramuan daun belimbing wuluh, kapulogo diberi gula batu dan entah apalagi lupa. Edgar minum ramuan itu...tok cer banget. Batuknya sedikit berkurang.
Pagi ini Edgar sudah baikan.
Saturday, May 05, 2007
Antara dongeng dan kenyataan.
Saya selalu sedikit kesal jika ada beberapa orang bertanya "Rin, rumahmu di Sidoarjo ya?" Ini sih gak masalah. "Wah habis ini rumahmu kena lumpur lho. Kenapa sih kamu beli rumah di Sidoarjo? Kok gak cari di Surabaya aja? Habis ini kamu ngungsi deh ke Surabaya lagi?"
Tahu gak kesannya? Kesannya kok menyalahkan mengapa saya ambil rumah di Sidoarjo. Kesannya kok seperti bilang 'ihhh enak di surabaya lhooo kita gak kena lumpur'.
Well...siapa sih yang bisa meramalkan masa depan kita sendiri? Anda? Sayapun tak bisa. Saya juga sebagian pendatang di Sidoarjo mengambil perumahan di sana karena di sana selain harga tidaklah terlalu mahal dibanding perumahan di Surabaya, udaranya nyaman, airpun mudah didapat dan jernih dibanding perumahan di Gresik.
Saya dan semua pendatang di sana, tidak pernah tahu akan datangnya musibah yang terkenal dengan 'LUSI' Lumpur Sidoarjo.
Apakah saya pernah kuatir terhadap keberadaan lumpur ini? Tentu..saya kuatir. Saya resah. Jarak rumah saya dengan pusat lumpur hanya sekitar 7 Kilo.
Apalagi ketika beberapa teman bersama saya membahas searching kita di Internet tentang Dongeng Geologi. Sebut saja pakar Jepang (cerita dari kakak sepupu) meramalkan suatu saat Sidoarjo ambles sampai daerah alun-alun (artinya rumah saya juga kena) lalu akan ada air bah lumpur hingga Waru (artinya hampir mencapai kota Surabaya).
Hasil bacaan saya... Mama Lorent sang peramal mengungkapkan dalam 5 bulan ke depan Sidoarjo tenggelam. Beberapa pakar juga mengatakan..ini warning karena ada lumpur..dibanding di negara India yang tiba2 dalam semalam saja satu desa hilang. Lumpur Lapindo akan berlangsung hingga 31 tahun
Hasil bacaan teman saya.. Lempengan Lumpur Lapindo berkaitan dengan Lempengan di Gunung Anyar (daerah Medokan) dan artinya sudah di Surabaya dekat dengan tempat kerja saya di Ubaya.
Teman-teman saya menyebutnya dengan Dongeng Geologi....
Tapi..benarkah ini hanya sebuah dongeng? Ataukah ini akan jadi nyata?
Saat ini saya juga beberapa teman di Sidoarjo berkata "Pasrah..apa kata Tuhan nanti." Satu kata itu merupakan semangat penghiburan bagi saya.
Saya prihatin dengan penanganan Lumpur yang terlambat dari Pemerintah. Mentang-mentang yang punya Lapindo masih pejabat, Pemerintah tak segera bertindak.
Trenyuh juga melihat korban Lapindo yang mengungsi. Dan herannya...tak banyak orang simpati pada mereka, dibandingkan dengan musibah2 yang lain. Padahal mereka juga butuh makan, air bersih, kesehatan (obat-obatan). Begitu juga dengan para karyawan yang terkena PHK karena pabrik tempat mereka bekerja tergenangi oleh lumpur.
Banyak berita yang mengatakan dampak Lapindo nantinya bukan saja dirasakan oleh masyarakat Jawa Timur yang sekarang perekonomiannya turun hingga 1.5%. Dampak Lapindo bisa meluas menyerang perekonomian Indonesia. Jadi..masihkah anda merasa beruntung dan senang karena anda tidak tinggal di Sidoarjo?
Lapindo ternyata juga membuka lahan baru bagi para pengangguran. Gak percaya? Coba anda datang ke arel Lapindo..di sana akan ada tukang ojek yang akan mengantar anda untuk melihat Lapindo yang ternyata tiap harinya tak pernah sepi. Gila kan? Ternyata tempat itu difungsikan juga sebagai obyek wisata. Nah lhoo..kok kesannya mereka suka melihat suatu tragedi yang menyengsarakan rakyat? Gak..gak...intinya mereka ini kebanyakan penasaran dengan bentuknya Lapindo. Termasuk teman saya...yang sampe bela2in kesana bawa suami dan anaknya yang masih usia 9 bulan. Anda juga jangan kaget jika begitu masuk areal Sidoarjo bagi anda yang bawa mobil akan dihadang beberapa orang, mereka menawarkan diri sebagai penunjuk jalan / joki. Untuk tukang ojek sekitar Lapindo katanya bisa mengantongi 35 ribu per orang. Untuk Joki bisa bekisaran 40-50ribu berdarkan tawar menawar.
Pasti anda akan bertanya..kenapa pakai penunjuk jalan? Yaaa karena sejak ada lapindo otomatis jalan menuju Malang/Pandaan ditutup, nah si Joki inilah yang lihai menunjukkan jalan2 alternatif untuk keluar dari kemacetan akibat lumpur.
Berikut ini beberapa foto Lapindo yang membuat miris...
Asap Lapindo yang makin mengganas
Jalan tol yang sekarang tak lagi berfungsi, tak bisa digunakan
Genangan lumpur makin meluas, bahkan sudah seperti lautanFoto-foto lain di Detik.com :
- Semburan Lumpur Panas Hitam
- Mesin Tak Kuasa Sedot Lumpur
- Melaju Di Tol Lumpur Gas
- Dusun Yang Penuh Lumpur
- Lautan Lumpur di Jatirejo
- Foto From JRK Indonesia
Monday, April 09, 2007
Saya tahu, saya terlambat.. bahkan sangat terlambat.
Tapi ijinkan saya untuk mengucapkan sepatah kata :
"Happy Easter" buat yang merayakannya.
Semoga di hari Paskah ini Tuhan memberikan keajaiban buat bangsa dan negara Indonesia tercinta ini.
Sungguh, Paskah ini saya berharap akan suatu keajaiban atas terjadinya semburan lumpur Lapindo yang terjadi di Sidoarjo. Bayangkan saja, ternyata sudah lebih dari 13 ribu rumah. Korban bukan lagi ratusan orang, bahkan ribuan. Berapa pabrik yang terkena lumpur? Berapa orang yang akhirnya di PHK paksa akibat lumpur? Berapa pengusaha kecil tas di tanggulangin, yang terpaksa gulung tikar. Dan haruskah itu terus bertambah?
Anehnya pemerintah menganggap ini bukan tanggung jawab mereka sepenuhnya. Timnas yang dispecialkan untuk menangani kasus itupun hendak dibubarkan. Seharusnya ini bukan lagi bencana daerah, ini bukan lagi kewajiban lapindo saja. Tapi ini juga termasuk tanggung jawab bersama (pemerintah dan kalangan pemikir juga masyarakan luas) dan ini sudah masuk bencana Nasional. Sungguh lumpur lapindo sudah mengancam Jawa dan Bali. Misal saja, pedagang cabe dari Jember...terpaksa merugi tak karuan, karena cabe biasanya dikirim ke Surabaya. Karena rel kereta tak berfungsi, iapun terpaksa menjual ke daerah dekat Jember.
Saya sendiri sudah was-was. Pasalnya rumah saya terletak di Sidoarjo, tepatnya 8 kilo dari lumpur lapindo. Jika rumah saya kena, berarti Sidoarjo telah tenggelam. Akh... akankah Sidoarjo benar-benar menjadi kota mati? Jika Aceh terkena bencana Tsunami yaitu bencana tak terduga yang datangnya cepat dan tak terpikirkan. Tapi kalau Sidoarjo terkena bencana yang datangnya perlahan-lahan tapi pasti, perlahan-lahan membunuh kehidupan orang-orang di Sidoarjo.
Sungguh, saya cuma ingin keajaiban buat kasus lumpur ini.
Ini adalah Paskah pertama untuk Edgar. Awalnya saya sangat bersemangat mengajak Edgar Misa. Misa Tri hari Suci diawali dengan Kamis Putih. Tak disangka, saya dan suami sangat kewalahan dengan tingkah Edgar. Berteriak-teriak sepanjang gereja, minta dititah, minta main di lantai. Karena kewalahan, suami mengajak pulang. Ya sudahlah, saya mengalah untuk pulang. Saya biarkan Edgar main sepuasnya di rumah.
Jumat Agung saya menitipkan Edgar pada eyangnya. Karena suami tugas Pasio dan saya tugas paduan suara. Hemm..saya dari awal sudah menduga kalau saya akan malu saat tugas paduan suara. Dari awal latihan saya sangat tidak suka dengan pelatihnya, karena selain kalau ngajar ngawur, gak bisa baca not..baca tempo juga gak bisa...eh kasih contohpun salah alias suaranya false. Tapi saya bisa apa? Bapak Ibu mertua cuma bilang, udah diamin aja..ntar orangnya tersinggung marah. Saya juga gak enak, ntar kalau ngajarin dikirin minterin atau sok pinter. Tapi saya beraniin juga hanya untuk kasih tahu tempo lagu, birama dan nada dasar. Ternyata orangnya sedikit bisa terima :)
Kemarin Minggu, Edgar saya ajak ke gereja. Tepat, ternyata misa Paskah khusus anak-anak. Jadi mulai Paduan suara, persembahan, lektor hingga pemazmur semua adalah anak-anak sekolah minggu. Saya jadi kangen untuk mengajar sekolah minggu. Jadi aneh saja...biasanya saya yang berdiri bercerita dengan boneka panggung, saya yang berdiri membagi kue-kue paskah..tapi kemarin ganti saya yang berdiri meng-antri kue untuk edgar :)
Duhhh...lagi-lagi saya dan suami kewalahan. Saya pikir Edgar bisa diam seperti umumnya bayi (sepantarannya, teman2 di gereja) anaknya bisa diam. Edgar begitu saya taruh duduk di karpet tempat pesta paskah anak, langsung saja merangkak melangkahi beberapa anak, hingga sampai di tengah. Herannya anak-anak kecil lain tak merasa terganggu, justru mereka pegangi pipinya Edgar. Saya sendiri jadi bertanya pada suami "Pa..apa si Edgar ini termasuk jenis anak over ya?"
Sayang sekali fotonya tidak saya bawa...mudah-mudahan dalam minggu ini saya bisa posting foto-foto terbaru Edgar.
Wednesday, March 07, 2007
Dia, yang paling kuasa
Aku sedih,
bukan untuk diriku sendiri
tapi untuk negeri
yang setiap hari selalu menjalani kejadian ngeri
tahun lalu banjir lumpur,
bulan lalu pesawat hilang,
minggu lalu longsor
kemarin gempa
sekarang pesawat meledak
aku bertanya pada Tuhan,
ini pertanda apa?
teguran atau cobaan?
kemarahan atau hukuman?
akupun tersadar
bukan hakku untuk bertanya
karena akupun hanya pemain dalam panggung sandiwara
yang nantinya bermain sesuai dengan arahan sutradara
akupun juga mengerti
bahwa hidup harus terus dijalani
dengan instropeksi diri
dan kesadaran hati
sadar ..
untuk selalu berbuat baik
dan siap untuk diambil
sang sutradara kehidupan
==================================
Kemarin saat lunch, tanpa sadar aku dan beberapa temanku ngobrol soal pesawat.
"Wah, sekarang kalau naik pesawat biar lebih save, pake Garuda aja deh...habis Adam Air udah beberapa kali juga kecelakaan," kata salah satu temanku.
Pagi ini, tiba-tiba kudengar pesawat Garuda meledak.
Siapa yang bisa memperkirakan? Tiba-tiba pesawat yang disebutkan oleh temanku sebagai pesawat yang bikin penumpang 'save' ternyata sudah gak save.
Siang ini, saat lunch .. kita jadi ramai-ramai bahas masalah itu. Apalagi salah satu teman (Australia Education Center), bawa tivi kecil, dia penasaran dengan 9 orang Aussie yang ikut menjadi korban dalam ledakan pesawat itu.
Aku jadi sedih jika ingat negeri tercintaku ini. Negeriku ini rasanya tak surut dari masalah. Gempa, banjir, kecelakaan, dan entah bentuk bencana apa lagi terus menimpa negeri ini.
Aku juga sedih ketika mendengar kabar Timnas penanganan lumpur lapindo tugasnya sudah selesai. Selesai dalam batas apa? Bahkan aku bilang tidak ada kerja maksimal dari Timnas.
Banyak warga yang kehilangan rumah dan barang-barang berharga berangkat ke Jakarta untuk meminta tanggung jawab.
Aku sedih tak terkira bahwa korban pesawat Adam Air tak bisa diangkat, karena biayanya yang cukup banyak dan sangat sulit untuk mengangkat pesawat Adam Air. Keluarga salah satu temanku, hanya bisa pasrah.
Akupun semakin yakin, bahwa nantinya angka statistik kematian di Indonesia sangat meningkat begitupula angka kemiskinan dan juga angka pada statistik 'orang gila'. Kenapa aku bisa bilang seperti itu?
Jelas angka kematian sudah meningkat, kemiskinan juga (gimana gak? nah yang korban banjir, gempa, bencana alam, lumpur..sudah tak punya apa2 lagi .. harta mereka sudah habis bersama bencana itu). Gila? ya pasti... tetangga depan rumahku (di MCG Sidoarjo) bercerita bahwa pamannya baru saja meninggal mendadak, karena rumahnya diperkirakan akan terkena lumpur...petugas pendataan datang dengan maksud supaya rumahnya nanti bisa dimintakan ganti rugi. Nyatanya, hanya didata saja .. pamannya sudah langsung shock dan meninggal seketika. Ada juga tetangga yang bercerita saudaranya gila alias stress tingkat berat, melihat rumahnya terkena lumpur lapindo.
Terkadang aku berpikir, penanganan yang terlambat dalam setiap kejadian, sebenarnya itu adalah kesalahan birokrasi dalam pemerintahan atau Indonesia memang punya alat terbatas? Sebagai contoh untuk mengangkat bangkai Adam Air, Indonesia tak mampu melakukannya sendiri. Begitupula lumpur lapindo, seolah tak ada tindakan optimal dari pemerintah pusat. Apakah akan dianggap bencana Nasional, dengan menunggu Sidoarjo benar-benar tenggelam? Aku sendiri sebagai warga Sidoarjo wajib siap mental, jika seandainya 11 tahun ke depan lumpur tak berhenti. Dan artinya aku harus rela kehilangan rumahku. Rela dalam arti pasrah.
Banyak yang bilang, lumpur lapindo tidak akan berhenti. Lumpur itu akan terus mengalir dan akan menenggelamkan kota Sidoarjo. Bagi manusia tidak mungkin, tetapi bagi Tuhan mungkin. Apa sih yang tak mungkin bagi Tuhan? Aku percaya, jika manusia mau berusaha..berdoa memohon mujizatNya dan yang terakhir berpasrah .. Tuhan pasti kabulkan.
* Janganlah kamu kuatir akan apa yang kamu makan, kamu minum dan kamu pakai .....
* Segala sesuatu indah pada waktunya
* Mintalah .. maka kamu akan menerima, carilah .. maka kamu akan mendapatkan, ketoklah .. maka pintu akan dibukakan bagimu
Tiga 'tanda bintang' itu yang membuat aku selama ini selalu punya harapan.
Karena aku percaya, Dia yang paling kuasa..tidak akan pernah tidur.
7Maret 2007
